Sabtu, 12 Desember 2015

EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM


Makalah Ini Diajukan Guna Memenuhi
Tugas Ulangan Akhir Semester
Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan Islam











Disusun Oleh :

Siti Munawaroh          NIM : 1410120072



 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS
 JURUSAN TARBIYAH/PAI
DESEMBER
TAHUN AKADEMIK 2015/2016



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
       Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits serta dalam pemikiran para ulama dan dalam praktik sejarah umat Islam.
       Dalam prosesnya, pendidikan Islam menjadikan tujuan sebagai sasaran ideal yang hendak dicapai dalam program dan diproses dalam produk kependidikan Islam atau output kependidikan Islam. Untuk mengetahui ketercapaian suatu tujuan kegiatan yaitu evaluasi.
       Salah satu tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk mengetahui ketercapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan evaluasi, suatu kegiatan dapat diketahui atau ditentukan tarap kemajuannya. Berhasil atau tidaknya pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya dapat dilihat setelah dilakukan evaluasi terhadap output yang dihasilkannya. Dengan kata lain penilaian atau evaluasi digunakan sebagai alat untuk menentukan suatu tujuan pendidikan dicapai atau tidak. Atau untuk melihat sejauhmana hasil belajar siswa sudah mencapai tujuannya.
        Dalam pendidikan Islam evaluasi merupakan salah satu komponen dari sistem pendidikan Islam yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pendidikan Islam dan proses pembelajaran.
      Oleh karena itu, penulis akan mencoba menelaah tentang evaluasi pendidikan Islam. Dengan demikian akan dibahas lebih lanjut mengenai pembahasan ini guna menjelaskan kepada pembaca, sehingga pembaca dapat mengambil manfaat dari makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
       Dari latar belakang masalah tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa pengertian evaluasi pendididikan islam ?
2.      Apa tujuan evaluasi pendididikan islam ?
3.      Bagaimana kedudukan evaluasi pendididikan islam?
4.      Apa fungsi dan prinsip evaluasi
5.      Apa Alat-alat evaluasi?
6.      Bagaimana langkah-langkah dan sasaran evaluasi?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Evaluasi Pendidikan Islam
       Rangkaian akhir dari suatu proses kegiatan pendidikan Islam adalah evaluasi. Berhasil tidaknya suatu pendidikan Islam dapat diketahui melalui evaluasi tersebut.
       Secara harfiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, evaluation, yang berarti penilaian dan penaksiran. Dalam bahasa Arab, dijumpai istilah imtihan, yang berarti ujian, dan khataman yang berarti cara menilai hasil akhir dari proses kegiatan.
        Sedangkan Suharsimi Arikunto mengartikan evaluasi merupakan tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu atau dapat diartikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan.[1]         
       Dalam istilah evaluasi terkandung makna pengukuran dan penilaian. Pengukuran dalam pendidikan adalah usaha untuk memahami kondisi-kondisi objektif tentang sesuatu yang akan dinilai, sedangkan penilaian dalam pendidikan yaitu menetapkan berbagai keputusan kependidikan, baik yang menyangkut perencanaan, pengelolaan, proses, dan tindak lanjut pendidikan, baik yang menyangkut perorangan, kelompok, maupun kelembagaan.[2]
       Evaluasi dalam pendidikan islam merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku manusia-didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental-psikologis dan spiritual-religius, karena manusia hasil pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya.[3]
       Jadi, evaluasi pendidikan Islam yaitu kegiatan penilaian terhadap tingkah laku peserta didik dari keseluruhan aspek mental-psikologis dan spiritual religius dalam pendidikan Islam, dalam hal ini tentunya yang menjadi tolak ukur adalah al-Qur’an dan al-Hadits.

B.     Tujuan Evaluasi Pendidikan Islam
       Pendidikan Islam secara rasional-filosofis bertujuan untuk membentuk al-insan kamil atau manusia paripurna, yang diarahkan kepada dimensi horizontal dan dimensi ketundukan vertikal. Tujuan evaluasi adalah mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian, dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan, dan mengetahui tingkat perubahan perilakunya. Mengetahui siapa diantara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga yang lemah diberi perhatian khusus agar ia dapat mengejar kekurangannya, sedangkan yang cerdas diberikan pengayaan untuk meningkatkan kemampuannya. Sasaran evaluasi tidak bertujuan mengevaluasi peserta didik saja, tetapi juga bertujuan mengevaluasi pendidik, yaitu sejauh mana ia bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.[4]
       Abudin Nata menambahkan, bahwa evaluasi bertujuan mengevaluasi pendidik, materi pendidikan, dan proses peyampaian materi pelajaran.[5]
Menurut  Muchtar Buchari  mengemukakan, ada dua tujuan evaluasi dalam Pendidikan, yaitu :
1.    Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik setelah menyadari pendidikan selama jangka waktu tertentu.
2.    Untuk mengetahui tingkah efisien metode pendidikan yang dipergunakan dalam jangka waktu tertentu.
Sedangkan secara khusus, tujuan pelaksanaan evaluasi dalam pendidikan Islam adalah untuk mengetahui kadar pemilikan dan pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, baik aspek kognitif, psikomotorik maupun efektif. Tetapi dalam pendidikan Islam yang lebih ditekankan pada penguasaan sikap (afektif dan psikomotorik). Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang secara garis besar meliputi empat hal yaitu :
1.    Sikap dan pengalaman pribadinya, hubungannya dengan tuhan.
2.    Sikap dan pengamalan dirinya, hubungannya dengan masyarakat.
3.    Sikap dan pengalaman kehidupannya, hubungannya dengan alam sekitar.
4.    Sikap dan pandangannya terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah dan selaku anggota masyarakatnya, serta selaku khalifah dimuka bumi.[6]

C.    Kedudukan Evaluakasi Pendidikan Islam
       Evaluasi dalam pendidikan tidak hanya ditekankan pada hasil yang dicapai tetapi juga prosesnya baik menyangkut prosedur dan mekanisme penyelenggaraan.
       Ajaran Islam memberikan perhatian yang tinggi terhadap pentingnya penyelenggaraan evaluasi pendidikan, karena dari evaluasi dimaksud bukan hanya diketahui hasil dan kendala yang dihadapi tetapi akan dijadikan dasar pijakan dalam melakukan perbaikan penyelenggaraan pendidikan Islam selanjutnya.
       Isyarat pelaksanaan evaluasi digariskan dalam surah Al Baqarah ayat 31-31:
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ (#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ
Artinya:
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." 
       Tentang pentingnya evaluasi terdapat dalam surah Al Naml ayat 27 yang berbunyi:
* tA$s% ãÝàZoYy |Mø%y|¹r& ÷Pr& |MYä. z`ÏB tûüÎ/É»s3ø9$# ÇËÐÈ
Artinya:
“Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta”.
       Pada ayat diatas bukan hanya mengisyaratkan pentingnya kedudukan evaluasi, tetapi menyangkut teknis pelaksanaan evaluasi. Yang pada intinya materi evaluasi harus sesuai dengan materi yang disampaikan kepada peserta didik. Contoh dalam surah Al Baqarah ayat 31-32 yaitu Allah mengajarkan kepada Adam tentang nama-nama benda. Maka evaluasinya Allah menugasi Adam untuk menyebutkan nama-nama benda tersebut sebagai pengukuran, penilaian dan evaluasi.
       Ajaran islam juga menaruh perhatian yang besar terhadap evaluasi tersebut, Allah SWT. Dalam berbagai firman-Nya dalam kitab suci al-Qur’an memberitahukan kepada kita, bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang harus dilaksanakan oleh pendidik.[7]


D.    Fungsi dan Prinsip Evaluasi
       Menurut Abuddin Nata, fungsi evaluasi pendidikan ada beberapa yaitu sebagai berikut:
a.    Evaluasi berfungsi sebagai selektif, yaitu evaluasi yang ditujukan untuk memilih siswa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program pendidikan.
b.    Evaluasi berfungsi diagnostik, yaitu evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan siswa dan faktor-faktornya.
c.    Evaluasi berfungsi sebagai penempatan, yaitu evaluasi yang ditujukan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan yang paling tepat.
d.   Evaluasi sebagai pengukur keberhasilan.
       Sedangkan dalam ajaran islam evaluasi berfungsi untuk:
a.     Menguji daya kemampuan manusia beriman kepada allah melalui berbagai problem kehidupan
b.    Mengetahui sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah disampaikan Nabi kepada umatnya
c.     Untuk menentukan kualifikasi keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Allah SWT
       Kemudian, secara umum ada empat fungsi evaluasi dalam pendidikan Islam, diantaranya :
a)    Dari segi pendidik, yaitu untuk membantu seorang pendidik mengetahui sejauhmana hasil yang dicapai dalam pelaksanaan tugasnya.
b)   Dari segi peserta didik, yaitu membantu peserta didik untuk dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar ke arah yang lebih baik.
c)    Dari segi ahli fikir pendidikan Islam, untuk membantu para pemikir pendidikan Islam mengetahui kelemahan teori-teori pendidikan Islam dan membantu mereka dalam merumuskan kembali teori-teori pendidikan Islam yang relevan dengan arus dinamika zaman yang senantiasa berubah.
d)   Dari segi politik pengambil kebijakan pendidikan Islam, untuk membantu mereka dalam membenahi sistem pengawasan dan mempertimbangkan kebijakan yang akn diterapkan dalam sistem pendidikan nasional (Islam).[8]

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam evaluasi pendidikan yaitu:
1.    Prinsip kesinambungan (kontinuitas)
       Dalam arti evaluasi pendidikan Islam tidak hanya dilakukan pada setiap akhir catur wulan, semester ataupun akhir tahun saja, tetapi dapat dilakukan dalam berbagai tahapan seperti harian, per sub bab pokok bahasan. Sehingga perkembangan dan kendala yang dihadapi dapat diketahui dengan cepat.
Dalam ajaran Islam, sangat diperlukan prinsip ini, karena keputusan yang diambil menjadi valid dan stabil.
2.    Prinsip menyeluruh (komprehensif)
       Dalam arti bukan hanya aspek hasilnya saja tetapi juga pada aspek proses penyelenggaraan pendidikan Islam. Hal ini berarti bahwa evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh meliputi berbagai aspek kehidupan peserta didik, baik yang menyangkut iman, ilmu, maupun amalnya.
3.    Prinsip objektif
       Evaluasi harus didasarkan kepada kondisi objektif, kemampuan apa adanya yang dimiliki para siswa. Dan dalam mengevaluasi dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, berdasarkan fakta dan data yang ada tanpa dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat subjektivitas dan irasional.
4.    Prinsip sistematis
       Pelaksanaan evaluasi harus diaksanakan dengan betu-betul terencana, baik sasaran dan tujuan, materi dan bahan garapannnya, maupun teknis dan penyelenggaraannya.
Pelaksanaan ke empat prinsip tersebut merupakan implementasi akhlakul karimah dalam pendidikan yaitu bersifat konsisten, jujur, objektif dan mengatakan apa adanya.
Jika prinsip tersebut tidak dilaksanakan dengan baik, maka mustahil akan memperoleh evaluasi yang baik.[9]
Sedangkan syarat-syarat yang dapat dipenuhi dalam proses evaluasi pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1.    Validity
       Tes harus dilakukan berdasarkan hal-hal yang seharusnya dievaluasi, yang meliputi seluruh bidang tertentu yang diinginkan dan diselidiki, sehingga tidak hanya mencakup satu bidang.
2.    Reliable
       Tes yang dapat dipercaya yang memberikan keterangan tentang kesanggupan peserta didik yan sesungguhnya. Soal yang ditampilkan tidak membawa penafsiran yang macam-macam.
3.    Efisiensi
       Tes yang mudah dalam administrasi, penilaian, dan interpretasinya.
E.     Alat-alat Evaluasi
       Alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien. Dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat juga untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan teknik evaluasi, ada dua teknik evaluasi, yaitu teknik nontes dan teknik tes :
1.    Teknik nontes
       Teknik evaluasi nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Teknik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian peserta didik secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, social, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam  pendidikan baik individual maupun secara kelompok.[10] yang tergolong teknik nontes antara lain:
a.   Kuesioner (questioner)
Kuesioner  juga biasa disebut angket. Pada dasarnya kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur . Dengan kuesioner ini  dapat diketahui keadaan atau data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap atau pendapat dan hal lainnya dari diri seseorang.
b.    Daftar cocok (check list) 
 Adalah deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat), dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cek ( √ ). Di tempat yang sudah disediakan.
c.    Wawancara (interview)
 Dengan melakukan wawancara, pewawancara sebagai evaluator dapat melakukan kontak langsung dengan peserta didik yang akan dinilai, sehingga dapat diperoleh hasil penilaian yang lebih lengkap dan mendalam.
d.    Pengamatan (observasi)
Pengamatan atau observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.
e.    Riwayat hidup
Dengan mempelajari riwayat, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap objek yang dinilai.
2.    Teknik Tes
Teknik tes yaitu teknik yang digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik, meliputi pengetahuan dan keterampilan sebagai hasil belajar, serta bakat khusus dan intelegensinya. Adapun yang termasuk teknik tes antara lain; uraian (essay test), objektif tes dalam bentuk pilihan ganda (multiple choice), menjodohkan, isianm betul-salah serta betuk tes lain seperti laporan, ikhtisar dan lain-lain.
       Jenis-jenis evaluasi yang dapat diterapkan daam pendidikan Islam ada empat macam, yaitu:[11]
a.    Evaluasi diagnostik
       yaitu penilaian yang dipusatkan pada proses belajar mngajar dengan melokalisasika suatu titik keberangkatan yang cocok. Misalnya mengklasifikasikan peserta didik sesuai dengan kesamaan minat, bakat, kepribadian, kecerdasan, keterampilan, dan lain-lain.
1)   Fungsi, yaitu untuk mengetahui masalah-masalah yang diderita atau mengganggu peserta didik, sehingga peserta didik mengalami kesulitan, hambatan atau gangguan ketika mengikuti program pembelajaran dalam satu mata pelajaran tertentu (PAI). Sehingga kesulitan peserta didik tersebut dapat diusahakan pemecahannya.
2)   Tujuan, yaitu untuk membantu kesulitan atau mengetahui hambatan yang dialami peserta didik waktu mengikuti kegiatan pembelajaran pada satu mata pelajaran tertentu (PAI) atau keseluruhan program pembelajaran.
3)   Aspek-aspek yang dinilai, meliputi hasil belajar, latar belakang kehidupannya, serta semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.
4)   Waktu pelaksanaan, disesuaikan dengan keperluan pembinaan dari suatu lembaga pendidikan, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan para peserta didiknya
b.    Evaluasi  formatif
Dari arti kata form yang merupakan dasar dari istilah formatif maka evaluasi formatif yaitu evaluasi yang menetapkan tingkat penguasaan manusia didik dan menentukan bagian-bagian tugas yang belum dikuasai dengan tepat.
Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik setelah menyelesaikan satuan program pembelajaran (kompetensi dasar) pada mata pelajaran tertentu.
c.     Evaluasi Sumatif
 Yaitu penilaian secara umum tentang keseluruhan hasil dari proses belajar mengajar yang dilakukan pada setiap akhir periode belajar mengajar secara terpadu.
1)   Fungsi, yaitu untuk mengetahui angka atau nilai peserta didik setelah mengikuti program pembelajaran dalam satu catur wulan, semester atau akhir tahun.
2)   Tujuan, untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti program pembelajaran dalam satu catur wulan, semester atau akhir tahun pada setiap mata pelajaran (PAI) pada satu satuan pendidikan tertentu.
3)   Aspek-aspek yang dinilai, yaitu kemajuan hasil belajar meliputi pengetahuan, ketrampilan, sikap dan penguasaan peserta didik tentang mata pelajaran yang diberikan.
4)   Waktu pelaksanaan, yaitu setelah selesai mengikuti program pembelajaran selama satu catur wulan, semester atau akhir tahun pembelajaran pada setiap mata pelajaran (PAI) pada satu tingkat satuan pendidikan.
d.   Evaluasi penempatan, yang menitikberatkan pada penilaian tentang berbagai permasalahan yang berkaitan dengan:
1)   Ilmu pengetahuan dan keterampilan peserta didik yang diperlukan untuk awal proses belajar mengajar.
2)   Pengetahuan peserta didik tentang tujuan pengajaran ysng telah ditetapkan sekolah.
3)   Minat dan perhatian, kebiasaan bekerja, cora kepribadiaan yang menonjol yang mengandung konotasi kepada sesuatu metode belajar tertentu.

F.     Sasaran dan Langkah-langkah Evaluasi
Pada umumnya ada tiga sasaran pokok evaluasi, yakni:
1.    Segi tingkah laku, artinya segi-segi yang menyangkut sikap, minat, perhatian, keterampilan murid sebagai akibat dari proses belajar mengajar.
2.    Segi pendidikan, artinya penguasaan materi pelajaran yang diberikan oleh guru dalam prosesbelajar mengajar.
3.    Segi-segi yang menyangkut proses belajar mengajar dan mengajar itu sendiri,yaitu  bahwaproses belajar mengajar perlu diberi penilaian secara objektif dari guru. Sebab baik tidaknya proses belajar mengajar akan menentukan baik tidaknya hasil belajar yang dicapai oleh murid.[12]

       Secara umum, proses pengembangan penyajian dan pemanfaatan evaluasi belajar dapat digambarkan dalam langkah-langkah berikut:[13]
·         Penentuan Tujuan Evaluasi
·          Penyusunan Kisi-kisi soal
·         Telaah atau review dan revisi soal
·         Uji Coba (try out)
·          Penyusunan soal
·          Penyajian tes Scorsing
·         Pengolahan hasil tes
·          Pelaporan hasil tes
·          Pemanfaatan hasil tes

       Dalam melakukan evaluasi pendidikan Islam, tidak hanya berorientasi kepada hasil saja, melainkan juga harus berorientasi kepada proses. Artinya suatu keberhasilan evaluasi pendidikan Islam tidak hanya menekankan kepada hasil peserta didik, seperti kecerdasan, bakat dan minat, melainkan juga berhasil dalam proses penyelenggaraan pendidikan Islam.
Dalam evaluasi juga tidak hanya menilai (praktis), tetapi juga mengukur sejauh mana keberhasilan yang ingin dicapai.
       Evaluasi pendidikan Islam idealnya dilakukan sesuai dengan prinsip kontinuitas (berkesinambungan), yaitu dapat dilakukan setiap sub bab bahasan, catur wulan akhir semester ataupun akhir tahun. Yang mana evaluasi harus ditetapkan atau dipersiapkan sesuai capaian keberhasilan seperti apa yang diinginkan dan sejauh mana penguasaan materi anak didik. Sehingga menghasilkan output yaitu lulusan yang unggul serta outcame yaitu hasil yang baik yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam.



       

      


      



BAB III
KESIMPULAN

1.      Secara harfiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, evaluation, yang berarti penilaian dan penaksiran. Evaluasi pendidikan Islam yaitu kegiatan penilaian terhadap tingkah laku peserta didik dari keseluruhan aspek mental-psikologis dan spiritual religius dalam pendidikan Islam, dalam hal ini tentunya yang menjadi tolak ukur adalah al-Qur’an dan al-Hadits.
2.      Tujuan evaluasi pendidikan yaitu:
a.    Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik setelah menyadari pendidikan selama jangka waktu tertentu.
b.    Untuk mengetahui tingkah efisien metode pendidikan yang dipergunakan dalam jangka waktu tertentu.
3.      Ajaran Islam memberikan perhatian yang tinggi terhadap pentingnya penyelenggaraan evaluasi pendidikan, karena dari evaluasi dimaksud bukan hanya diketahui hasil dan kendala yang dihadapi tetapi akan dijadikan dasar pijakan dalam melakukan perbaikan penyelenggaraan pendidikan Islam selanjutnya.
4.      Menurut Abuddin Nata, fungsi evaluasi pendidikan sebagai selektif, diagnostik, penempatan dan pengukur keberhasilan. Sedangkan prinsip dalam evaluasi yaitu keseimbangan, menyeluruh, objektif dan sistematis.
5.      Evaluator menggunakan cara atau teknik dalam evaluasi, ada dua teknik evaluasi, yaitu teknik nontes dan teknik tes.
6.      Ada tiga sasaran dalam evaluasi yaitu, dalam tingkah laku; pendidikan dan proses belajar dam mengajar. Adapun langkah-langkah evaluasi yaitu penentuan tujuan evaluasi, penyususnan kisi-kisi soal, telaah atau review dan revisi soal, uji Ccba (try out), Penyusunan soal, penyajian tes scorsing, pengolahan hasil tes, pelaporan hasil tes, dan pemanfaatan hasil tes.








DAFTAR PUSTAKA

Syar’i, Ahmad. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Arifin, M. 1994. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Sulistyorini. 2005. Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Teras.
Umar, Bukhari. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.
Mujib, Abdul. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.






[1]H. Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), hlm. 87
[2] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 194
[3] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 238
[4]  Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 211
[6] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 197
[7]H. Abuddin Nata, Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 134
[8] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 212
[9] H. Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), hlm. 89-90
[10] Sulistyorini, Evaluasi Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 55
[11] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 245-246
[12] H.Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 143

Tidak ada komentar:

Posting Komentar